CEO Arogan

CEO Arogan

Author:Jorachan

CEO | Updating

Introduction
Devan Wijaya, dia seorang CEO muda yang membuat setiap wanita terkesima. Wajahnya begitu tampan dengan badan yang kekar dan tinggi. Saat Devan tersenyum, pesonanya langsung membuat setiap wanita jatuh hati. Muda, tampan, dan mapan, apalagi yang kurang dari seorang Devan Wijaya? Namun, siapa sangka di balik semua kharismanya, Devan memiliki sisi kelam di hatinya. Devan tidak mencintai wanita karena suatu alasan. Ia hanya mempermainkan wanita sesuka hatinya. Saat menemui wanita yang tidak ia sukai, sifatnya menjadi sedingin es. Devan dengan usianya yang sudah dewasa tidak memiliki kehendak sedikitpun untuk menikah. Suatu ketika, ia dipertemukan dengan Sandrina, sekretaris pilihan ayahnya. Sandrina Jovanka sangat cuek dengan penampilannya, karena itu kecantikannya tak terlihat jelas. Ditambah lagi badannya yang cukup gemuk membuat Devan semakin muak dengan Sandrina. Bagi Devan, Sandrina hanyalah sebuah masalah. Hubungan Sandrina dengan bosnya itu tak pernah baik. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan sudah diatur sejak lama oleh Pak Yoga dan Tuan Wijaya. Devan dan Sandrina harus menikah. Bagaimana mereka menjalani pernikahan tanpa cinta? Akankah Sandrina bisa meluluhkan hati Devan yang keras bak batu karang??
Show All▼
Chapter

“Bangun!! Cepat bangun! Dasar anak pemalas!” ucap Bu Fera membangunkan putri sulungnya.

Sandrina tak menghiraukan ucapan ibunya. Ia malah membenarkan selimutnya ke atas. Matanya masih tetap terpejam.

“Benar! Benar anak ini!! Anak perempuan jam segini belum bangun!” teriak Bu Fera sambil mengguyur kepala Sandrina dengan air yang ada di gelas bekas minum gadis itu.

“Apaan sih Ma?? Aku masih ngantuk!” sahut Sandrina kesal.

“Ngantuk? Ini sudah jam sembilan! Sandrina! Kamu ini anak sulung! Jangan jadi beban keluarga!”

Sandrina bangun lalu mengucek matanya. Matanya sudah lebih segar dengan guyuran air itu. Pemandangan yang selalu ia lihat tiap pagi. Ibunya marah-marah. Sandrina mendengus kesal.

“Selalu saja seperti ini! Kenapa kamu tak pernah mencoba untuk berubah. Kemalasanmu itu membuat rezekimu sulit!”

“Ma, kata orang rezeki sudah ada yang ngatur. Jadi kita tinggal menjaninya saja.”

Mata Bu Fera semakin melotot melihat anaknya yang susah dinasehati itu. Wanita paruh baya itu sudah bosan menasehati Sandrina.

“Sudahlah Ma. Kelak saat pintu rezeki milikku terbuka lebar, mama dan papa tak akan menyesal membesarkanku,” ucap Sandrina sambil tertawa.

“Terserah apa katamu!! Yang penting Mama mau kamu segera dapat kerja. Papa dan Mama sudah banting tulang membesarkanmu! Membiayai kuliahmu! Kamu masih punya adik-adik yang membutuhkan banyak biaya!” cecar Bu Fera sambil meninggalkan kamar Sandrina.

Blar!!

Pintu kamarnya kembali dibanting oleh Bu Fera. Namun, semua itu seolah tak menggoyahkan hati Sandrina. Gadis berumur dua puluh satu tahun itu memang masih memiliki dua adik.

Raka, adiknya yang masih SMA dan Chika, adiknya yang masih SMP. Mereka memang masih butuh banyak biaya. Sementara Bu Fera hanya berjualan soto ayam di depan rumah mereka dan Pak Yoga hanya seorang driver ojol.

“Lagi-lagi aku anak pertama harus ikut berjuang. Sandrina, berjuanglah! Aku yakin aku bisa,” seru Sandrina mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Gadis itu mandi dan kembali mengenakan seragam kebesarannya. Kemeja putih dan rok pendek warna hitam. Seragam para pencari kerja. Beberapa map dan amplop dia tenteng.

Sejak lulus, malam-malam Sandrina hanya digunakan untuk menulis surat lamaran dan mencari-cari lowongan kerja via online.

“Ma, aku mau sarapan,” ucap Sandrina duduk di depan Bu Fera yang yang menyiapkan dagangannya.

Sejenak wanita itu melihat ke arah Sandrina. Tatapannya begitu sayu dan tak bersemangat memandang anak sulungnya.

“Kamu sudah besar, buatlah sendiri!” ucap Bu Fera.

“Huh, mama selalu membeda-bedakan diriku dengan adik-adikku. Aku kan juga ingin diperhatikan seperti dulu,” ucap Sandrina.

“Ya karena kamu anak pertama. Seharusnya kamu sudah dewasa! Tak pantaslah merengek-rengek seperti ini!”

Akhirnya Sandrina meracik mangkoknya sendiri. Ia menambahkan ayam cukup banyak dan bawang goreng tak kalah banyak.

Doeng!!

Kepala Sandrina dipukul dengan loyang aluminium. Gadis itu memegangi kepalanya. Sakitnya memang tak seberapa, tapi kagetnya minta ampun.

“ADUH! Mama ini kenapa sih! Sakit tahu!!” teriak Sandrina parau.

“Apa-apaan isi mangkokmu itu? Merugikan saja!! Ayam dan bawang goreng itu bisa untuk beberapa porsi kalau dijua!”

“Kenapa mama selalu perhitungan denganku! Sama si Chika aja dia boleh meracik soto sesukanya! Tadi katanya aku suruh buat sendiri. Huh!! Kesal rasanya!”

“Itu beda. Dia masih kecil. Masih butuh banyak gizi! Nggak kayak kamu! Udah besar masih saja jadi beban!”

“Ada apa ini?? Masih pagi sudah ribut saja! Malu ah di dengar tetangga,” Pak Yoga yang baru saja turun dari motornya langsung mendekati dua wanita itu.

“Mama dari tadi pagi marah-marah terus Pa,” ucap Sandrina sambil memakan soto racikannya.

“Sudahlah. Kamu sarapan dulu yang kenyang ya. Oh ya, hari ini kamu cantik sekali!”

“Benarkah Pa??”

“Benar, apa kamu mau cari kerja?”

“Iya Pa. Lihat ini Pa, aku sudah siapkan semuanya semalaman. Aku tinggal mengirimkan ke beberapa perusahaan itu saja.”

“Wah kamu rajin sekali. Papa yakin, kamu akan segera mendapatkan pekerjaan. Mau Papa antar??” tanya Pak Yoga ramah.

“Stop!! Stop!! Aku tak tahan dengan drama ini. Kamu terlalu memanjakan Sandrina, Pa!! Tolong jangan buat keadaan semakin kacau. Jangan banyak berbohong,” sergah Bu Fera.

“Ih, apa sih maksud Mama ini! Papa tuh baik banget nggak kayak Mama,” ucap Sandrina kesal.

Hanya Pak Yoga yang bisa memahami perasaan Sandrina dengan baik di tengah tuntutan kehidupannya itu. Ayahnya selalu bisa menghibur dan menenangkan hatinya.

Pak Yoga selalu memberi nasehat tanpa marah-marah. Bagi Sandrina, sosok ayahnya tak pernah pilih kasih. Sangat berbeda dengan ibunya yang galaknya kelewatan.

“Pertama, sejak kapan kamu cantik? Cewek seumuranmu sudah kenal skincare dan badan mereka bagus-bagus karena rajin olah raga. Nah kamu, hobinya molor. Nggak pernah mikirin penampilan! Pantas saja belum di terima kerja. Perusahaan jaman sekarang cari yang good looking!”

Mendengar caci maki ibunya, Sandrina tertunduk. Ceramah ibunya langsung menghujam masuk hatinya. Pak Yoga mengelus punggung putri sulungnya.

“Sabar ya. Kamu udah biasa kan dengar omelan ini setiap hari. Anggap aja radio rusak,” bisik Pak Yoga ke telinga Sandrina.

Bisikan ayahnya tak mampu menenangkan hati Sandrina saat menghadapi kemarahan sang ibu. Dalam hati, sebenarnya Sandrina menyadari perkataan ibunya benar. Namun, semuanya masih terasa menyakitkan baginya.

“Kedua, sejak kapan kamu rajin? Kamu hanya mengurusi kesenanganmu sendiri Sandrina! Dan ketiga, jangan minta papamu mengantarmu! Papa kamu butuh cari uang! Ingat itu!” cecar Bu Fera kembali.

“Sudahlah Ma, jangan terlalu keras pada Sandrina! Dia sudah berusaha. Sebagai orang tua, kita juga harus mendukungnya.” Pak Yoga mencoba membela Sandrina.

“Terus! Terus saja kamu bela anak kesayanganmu itu!! Biar dia semakin manja,” ucap Bu Fera kesal.

“Cukup!! Aku tahu, aku harus segera mencari pekerjaan!! Kalau begitu, aku tak akan pulang sebelum dapat pekerjaan! Aku tak ingin terus menerus menjadi beban!” ucap Sandrina sambil terisak.

Gadis itu tak menghabiskan makanannya. Ia berjalan mendekati motornya. Tak butuh waktu lama ia sudah pergi mengendarai motornya. Karena kemarahannya, Sandria tak berpamitan dengan ibu dan ayahnya.

Beberapa kali ia mendengar Pak Yoga memanggilnya. Namun, Sandrina begitu sakit kalau harus terus menerus mendengarkan kemarahan ibunya.

“Sial, kalau Mama nggak ngomel terus, aku sudah kenyang. Kalau seperti ini, aku masih sangat lapar. Baru beberapa suap saja aku makan,” gumam Sandrina.

Tak lama ia melihat tukang somay. Ia membeli somay itu dan makan dengan lahap. Sandrina tak tahan lapar, hal itu sudah tampak dari badannya yang agak gendut.

Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalannya. Kekesalan masih menggunung di hatinya. Tiba-tiba ia berhenti di tengah jalan karena matanya begitu pedih.

“Apa sih?? Jangan-jangan kemasukan pasir atau debu,” gerutu Sandrina sambil melihat bola matanya di spion motornya.

Bruk!!

Sebuah mobil menabrak motor Sandrina dari belakang. Gadis yang sudah membersihkan matanya itu langsung menatap tajam ke belakang.

“Hei, cewek bodoh! Kenapa kamu berhenti di tengah jalan??” teriak seorang lelaki yang berasa di dalam mobil yang menabraknya.

Tanpa pikir panjang, Sandrina turun dari motornya. Ia mengamati bagian motornya yang renyek. Lalu ia mendekati mobil itu.

Tok! Tok! Tok!

“Cepat keluar cowok bodoh!!” teriak Sandrina setelah mengetuk kaca mobilnya dengan keras.