Menantu pertama

Menantu pertama

Author:

CEO | Finished

Introduction
Luwes pernah memiliki keluarga yang sangat kaya. Namun, setelah orang tuanya meninggal, istri dan keluarganya menganggap dia sampah. Bahkan jika satu-satunya kerabat dan bibinya membutuhkan biaya pengobatan, dia tidak dapat membayar sepeser pun. Ketika dia putus asa, kakeknya memberinya 4 triliun. Dia tidak menyebutkan ini kepada siapa pun, jadi orang-orang di sekitarnya masih menganggap dia sampah yang malang. Mereka memaksa istrinya untuk menceraikannya karena mereka membutuhkan menantu yang lebih kaya. Tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka secara bertahap kehilangan menantu terbaik mereka. . .
Show All▼
Chapter

"Anak-anak Keluarga Setiyawan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nenek, semoga keberuntungan dan ketentraman selalu menyertai Nenek!"

Malam ini di vila Keluarga Setiyawan, dekorasinya sangat mewah, lampunya terang benderang, suaranya sangat meriah, untuk merayakan ulang tahun ke-70 Nenek Rosita .

"Nenek, ini adalah hadiah saya untuk Anda, teh herbal yang berusia seratus tahun, senilai satu miliar."

"Nenek, Anda percaya pada Buddha, saya memenangkan lelang batu giok berukiran Buddha ini khusus untuk Anda yang bernilai sebesar 1,4 miliar."

......

Melihat anak-anak dan cucu-cucu memberikan hadiah besar, Nyonya Rosita sangat bahagia, tertawa hingga tidak bisa merapatkan mulutnya, semua Keluarga Setiyawan sedang bersuka cita.

Tetapi pada saat ini, terdengar sebuah suara yang tidak cocok dengan situasi sekarang.

"Nenek, Bibi Wita dari panti asuhan terkena penyakit uremia, membutuhkan uang untuk berobat, bisakah Anda meminjamkanku dua miliar..."

Selesai bicara, suasana di vila mewah hening seketika, semua melihat orang yang berkata itu dengan pandangan heboh.

"Luwes, apakah kamu gila?"

"Luwes, meskipun kamu hanyalah menantu pungut, tetapi juga suami dari cucu tertua Keluarga Setiyawan, Nenek ulang tahun hari ini, kamu bahkan tidak menyiapkan hadiah apa pun, dan masih berani meminta uang sebanyak itu, meminjam kepada Nenek dua miliar?"

"Iya benar, jika bukan Kakek yang menerimamu tiga tahun lalu, dan bahkan menikahkan Insianna denganmu, mungkin saja kamu sekarang sudah menjadi pengemis, dan sekarang Kakek sudah tidak ada lagi, kamu sekarang terang-terangan meminta uang?"

......

Mendengarkan omelan orang banyak, Nyonya Rosita perlahan menarik senyumannya, memelototi Luwes lalu tiba-tiba membanting cangkir teh di tangannya ke lantai, dan mengomel: "B*jingan, apa kamu kira saya sudah mati?!"

Mendengar ini, semua orang menjadi merinding, istri Luwes, Insianna bergegas maju, berkata kepada Rosita: "Nenek, Luwes tidak bermaksud begitu, Anda tolong maklumi dia..."

Tapi sebelum dia selesai bicara, Marissa yang adalah adik sepupu Insianna yang sedang berdiri di samping mencibir: "Kakak, suami kamu ini benar-benar menikah dengan orang baik, saya dan Kautsar baru saja bertunangan, dia langsung memberikan Nenek sebuah giok berukiran Buddha, tapi suamimu ini, bukan hanya tidak membawa hadiah apapun, bahkan masih tidak tahu malu ingin meminjam uang kepada Nenek, apa dia tidak takut ditertawakan orang jika informasi ini tersebar?"

"Bang Luwes, bukan maksud aku mengatakan kamu begini, tetapi kamu sama-sama sebagai cucu menantu Keluarga Setiyawan, cucu menantu tertua bukankah sangat kelewatan!" 

Marissa baru saja selesai bicara, tunangannya yang berdiri di samping, Kautsar Prayogo, putra dari keluarga besar Kautsar, dari kota setempat juga, ikut bicara. 

Hanya saja ketika dia meremehkan Luwes, tapi matanya tidak tahan untuk selalu melirik Insianna, sebagai bunga di Kanayakan, kecantikan Insianna jauh lebih cantik daripada calon istrinya Marissa, tapi wanita yang selalu dipuja orang ini, malah menikah dengan Luwes si pecundang ini, ini membuat hatinya merasa tidak senang.

Mendengar kata-katanya, vila Keluarga Setiyawan seketika menjadi gaduh.

"Pecundang seperti ini, masih tidak tahu malu untuk bertahan di Keluarga Setiyawan, dan wajah Keluarga Setiyawan kita pun sudah dipermalukannya!"

"Ya, saya usul cepat suruh dia pergi saja!"

"Saya pikir dia ada di sini bukan untuk meminjam uang, tetapi untuk menghancurkan acara ulang tahun Nenek!"

......

Mendengarkan hinaan dari orang-orang di sekitar, Luwes tersenyum pahit, diam untuk waktu yang lama, perlahan berkata: "Nenek, saya mohon, penyakit Bibi Wita sangat genting, kebaikan menyelamatkan nyawa satu orang itu sangat besar, Anda tolong berbaik hati membantunya..."

"Luwes, jika kamu ingin menolongnya, gunakan uangmu sendiri, apa maksudmu dengan meminjam uang kepada Nenek?"

Luwes belum selesai bicara, kakak kandung Marissa, Masrul langsung berteriak.

Melihat Luwes menjadi sasaran kritik semua orang, ekspresi Insianna menjadi muram, berdiam sejenak, berkata dengan pelan: "Nenek, ketika Luwes delapan tahun ayahnya sudah tidak ada, dan Bibi Wita dari panti asuhan yang merawatnya, jika tidak ada Bibi Wita, mungkin saja Luwes sudah meninggal sejak lama, dia hanya ingin membalas budinya saja, saya mohon Nenek tolong bantu dia..."

Mendengar ini, ekspresi Nyonya Rosita tampak muram dan mendengus dingin, "Jika ingin saya menolongnya, itu tidak masalah, tapi kamu harus bercerai dengannya lalu menikah dengan Pak Rustam, asalkan kamu setuju, aku sekarang akan memberinya dua miliar!"

Begitu pernyataan ini terucap, semua orang menjadi gempar, tapi ekspresi mereka seperti sudah bisa menebak, karena Pak Rustam yang dikatakan oleh Nenek Rosita, mereka semua mengenalnya, bagaimana pun Keluarga Wibawanta adalah keluarga terkemuka di Kanayakan, dan jauh lebih hebat dari Keluarga Setiyawan, dan Rustam sangat mengidamkan Insianna, Nenek Rosita sudah sejak lama ingin menjodohkan mereka, menggunakan kesempatan ini untuk mendapat dukungan dari Keluarga Wibawanta.

Dan pada saat ini, kepala pelayan berlari masuk, dengan hormat dan keras berkata: "Rustam, Pak Rustam mengirim orang untuk memberikan hadiah ulang tahun, sebuah batu giok kuno berukiran Buddha, senilai 6 miliar, di sini mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nenek Rosita, semoga nenek selalu diberikan keberuntungan dan kesehatan!" 

Selesai bicara, semua hadirin terkejut dan terkagum-kagum, Nyonya Rosita juga sangat gembira, buru-buru berkata:" Cepat, cepat bawa kemari!"

Kepala pelayan menerima perintah dan langsung memberikan batu giok itu ke tangan Rosita.

Melihat batu giok itu, sejernih kristal, tanpa cela sedikit pun, terlihat bahwa itu adalah barang yang sangat berharga, Nyonya Rosita tertawa gembira, memegang batu giok berukiran Buddha itu dan tidak ingin melepaskannya, lalu tertawa dan berkata: "Oh ya, ini terlalu merepotkan Pak Rustam!"

Sambil berkata, dia menatap Insianna dan berbisik, "Sudah kamu pikirkan belum?"

Insianna menggelengkan kepalanya, tanpa sedikit ragu berkata: "Nenek, saya tidak akan menceraikan Luwes." 

Mendengar kata-kata Insianna yang begitu tegas, wajah Nyonya Rosita langsung berubah, menepuk meja, dengan marah mengomel: ''Benar-benar tidak bisa dinasehati, aku tidak mengerti, si pecundang ini apanya yang kamu sukai darinya? Lihat apa, buruan usir si pecundang ini pergi, jangan membuatku marah di sini, benar-benar menjijikan!"

Luwes mengepalkan tangannya, tapi akhirnya tidak membantah, hanya berkata pelan-pelan kepada Insianna: "Insianna, aku pergi untuk melihat keadaan Bibi Wita, dia sendirian di rumah sakit, aku tidak tenang."

Insianna buru-buru berkata: "Aku pergi bersamamu."

Nyonya Rosita sangat marah hingga wajahnya merah dan memarahinya, "Jika kamu berani pergi dengannya hari ini, maka aku akan menganggap kamu bukan lagi cucuku!"

Melihat Nyonya Rosita marah, Luwes menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu, kamu di sini saja untuk merayakan ulang tahun Nenek."

Selesai bicara, Luwes sama sekali tidak menoleh dan berbalik pergi.

"Apanya cucu menantu tertua dari Keluarga Setiyawan, kulihat dia hanyalah seorang pecundang!"

Melihat bayangannya menjauh, semua Keluarga Setiyawan terus berbicara dan tertawa.

......

Ketika Luwes sampai di rumah sakit, ingin bernegosiasi dengan kasir, apakah bisa memberi kelonggaran pembayaran beberapa hari, tapi perawat mengatakan kepadanya bahwa Bibi Wita sudah dikirim ke rumah sakit terbaik di Beloksao untuk perawatan.

Mendengar ini, Luwes terkejut, buru-buru bertanya: "Berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk perawatan ini, saya sekarang akan mencari cara untuk membayarnya."

Perawat berpikir sejenak dan berkata, "Kira-kira empat miliar."

Luwes sedikit terpana dan bergumam, "Empat miliar...."

Melihat ekspresi Luwes, perawat terkejut: "Bukankah sudah membayar dua miliar, sisanya lunasi dalam satu minggu. "

Selesai bicara, Luwes benar-benar terpana, dan berkata dengan tidak percaya: "Sudah dibayar dua miliar? Siapa yang membayarnya?" 

Perawat itu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saya tidak tahu."

Tepat ketika Luwes bingung, seorang pria paruh baya dengan setelan jas dan sepatu kulit, dengan beberapa rambut putih, muncul di hadapannya.

Luwes mendongak untuk melihatnya, pria itu sangat hormat, membungkuk dalam-dalam kepadanya, berkata dengan tenang: "Tuan muda, akhirnya bertemu Anda lagi."