Takdir Cinta

Takdir Cinta

Author:Jorachan

Roman Dewasa | Updating

Introduction
Sebuah pernikahan ternyata tak menjamin hadirnya kebahagiaan. Sudah tiga tahun Rosalie menikah dengan Kevin dan hidupnya malah menderita. Kevin, lelaki dengan badan kekar dan wajah yang tampan itu tak pernah memberikan nafkah batin pada Rosalie. Rosalie mencoba mempertahankan biduk rumah tangganya yang terasa hambar itu. Namun, Rosalie tak bisa bersabar lagi saat ia mengetahui kenyataan tentang suaminya. Rosalie memutuskan untuk bercerai karena suaminya penyuka sesama jenis. Hati Rosalie begitu kacau saat itu. Ia harus menyandang status sebagai seorang janda. Di tengah kehidupan sosial yang penuh cibiran dan hinaan itu, Rosalie berusaha bertahan. Pernikahan pertamanya yang hancur berantakan, memberikan trauma pada Rosalie untuk kembali percaya pada laki-laki. Rosalie menjadi janda kembang, janda yang belum pernah tersentuh bahkan oleh mantan suaminya. Entah kapan ia akan mengakhiri status jandanya dan memiliki lelaki yang benar-benar mencintainya. Entah siapa yang dapat menyembuhkan luka hati Rosalie.
Show All▼
Chapter

"Mas, apakah malam ini kamu juga terlambat pulang??" tanya Rosalie pada suaminya melalui sambungan telepon.

"Kamu tidur saja dulu! Mungkin aku pulang subuh. Maafkan aku sayang, aku sedang ada urusan di luar," ucap Kevin dengan mudahnya.

Rosalie menghela napasnya panjang. Rasa resah langsung bergelayut di dalam hatinya. Sebenarnya ia merindukan suaminya.

"Kenapa kamu sering sekali meninggalkanku sendiri Mas??" tanya Rosalie.

"Sayang, aku tak ingin memulai pembahasan ini lagi! Aku sudah ditunggu beberapa rekan kerjaku. Aku harus menyiapkan meeting malam ini."

"Tapi Mas, aku merindukanmu."

"Rosalie, jangan mulai pembahasan ini!!" bentak Kevin.

"Baiklah," ucapan Rosalie langsung disambut dengan suara telepon yang diputus secara sepihak.

Rosalie menghela napasnya dengan begitu berat. Dadanya terasa sesak. Ia harus menerima kenyataan itu. Perlakuan Kevin sangat berbeda. Dulu sebelum menikah, Kevin begitu menyayanginya.

Tiga tahun menikah dengan Kevin tak membuat Rosalie bahagia. Hanya ada pertengkaran di dalamnya meski masalahnya sama. Entah sampai kapan biduk rumah tangga mereka bisa bertahan.

"Malam ini masih sama dengan malam-malam sebelumnya. Aku harus menjalani malam yang sepi. Malam tanpa cinta. Ada apa denganmu Kevin? Apa kamu sebenarnya tak mencintaiku?" tanya Rosalie sambil memegang foto pernikahannya yang terbingkai rapi dalam figura.

Saat itu, kedua keluarga tersenyum penuh kebahagiaan. Begitu juga dengan Rosalie dan Kevin. Namun, kesedihan terus bergelayut di hati Rosalie karena Kevin belum pernah menyentuh tubuhnya.

Sejak malam pertama, sampai malam-malam selanjutnya, Kevin selalu punya alasan. Mulai dari capek, tidur di luar, tak enak badan, sakit perut, sakit kepala, sampai alasan-alasan lainnya yang kadang tak masuk akal bagi Rosalie.

Rosalie kembali menghela napasnya panjang. Ia menelan salivanya dengan berat. Sebagai wanita biasa, sebenarnya ia tak bisa menahan keinginan yang menggebu-gebu di hatinya.

"Apa kamu tak punya rasa yang sama padaku?" tanya Rosalie pada ruangan sepi itu.

Dua asisten rumah tangganya mungkin sudah tidur. Namun, Rosalie masih terjaga meski sudah pukul sebelas malam. Pikirannya gundah dan hatinya begitu menginginkan sentuhan lelaki.

Tapi apa yang bisa ia lakukan?? Ia hanya bisa berharap suaminya mau menyentuhnya suatu saat. Dan, menjalankan kewajiban pada suatu pernikahan.

Mata Rosalie berkaca-kaca membayangkan Kevin mau bercinta dengannya. Hatinya bergetar hebat hanya membayangkan hal itu saja. Ia begitu mendamba sentuhan dari suaminya sendiri.

"Aku harus tidur. Besok aku juga harus berangkat kerja. Ya Tuhan, berikan petunjuk-Mu," bisik Rosalie lirih.

Ia mengembalikan figura itu ke nakas disamping tempat tidurnya. Tak lupa Rosalie memasang alarmnya di ponselnya. Lalu ia meletakkan ponselnya di atas nakas.

Pyar!!!

Tak sengaja tangannya menyenggol figura yang tadi ia pegang. Foto pernikahannya jatuh di lantai, figura itu pecah berkeping-keping.

"Astaga, ada apa ini?? Kenapa aku menjadi tak tenang? Apakah ini suatu pertanda?" tanya Rosalie gelisah.

Ia kembali bangun dan membersihkan pecahan figura itu. Keesokan harinya saat ia bangun, ia agak kesiangan. Namun, Kevin belum juga pulang.

Rosalie tak sempat memikirkan suaminya itu. Ia memakan sarapan yang sudah disiapkan asisten rumah tangganya. Lalu, ia terburu-buru berangkat ke kantor.

"Bi, kalau suamiku pulang, kasih kabar aku ya," pinta Rosalie sambil berlalu.

"Iya Bu," jawab Bu Surti.

Usia Rosalie masih dua puluh lima tahun. Ia masih terlihat begitu cantik. Rambutnya lurus dengan warna agak kecoklatan. Wajahnya tirus senada dengan tubuhnya yang begitu ideal bak gitar Spanyol.

Lalu lesung pipi dan hidungnya yang mancung semakin mempertegas kecantikan di wajah Rosalie. Wanita cantik itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan.

"Hei Ros, kamu kelihatan lelah sekali?? Apa kamu habis begadang?" tanya Elia, teman kerjanya.

"Benarkah?? Apa kantung mataku begitu hitam?" tanya Rosalie.

Elia mengangguk dan Rosalie bergegas ke kamar mandi untuk mempertebal riasannya. Rosalie mengembuskan napas kesalnya dengan keadaan yang ada.

Namun, di tengah kegundahan hatinya, Rosalie harus fokus bekerja. Saat jam makan siang tiba, hatinya begitu senang. Ia mengisi perutnya dengan banyak makanan untuk meredakan kekesalan di hatinya.

"Wah, tadi pagi kelelahan, sekarang makannya banyak banget. Tadi malam lembur apa Ros??" tanya Elia saat duduk di sampingnya.

"Aku nggak lembur kok, kerjaan kantor sudah selesai semua kemarin," jawab Rosalie santai.

"Hadeh, maksudku lembur bersama Kevin. Aku paham kok. Udah deh, kita sudah sama-sama menikah. Jadi jangan malu."

"Maksud kamu??" Rosalie masih tak mengerti.

"Mas Beni juga seperti itu saat usia pernikahan kita menginjak dua tahun dan kami belum diberi keturunan. Seringkali dia minta jatah. Ya aku sih senang-senang saja karena kami sama-sama menginginkan anak. Akhirnya kami punya anak juga, aku tahu kalian juga bisa. Pasti Kevin berusaha cukup keras untuk membuatmu hamil ya?" pertanyaan Elia langsung membuat Rosalie tersedak.

Elia panik dan mengambilkan minuman untuk temannya itu. Rosalie meneguk minuman itu dengan cepat. Rosalie langsung meratapi kenyataan dalam hidupnya yang begitu pahit.

"Pelan-pelan saja. Maaf kalau kamu tak ingin membicarakan hal ini," kata Elia.

"Nggak apa-apa kok El," jawaban Rosalie terdengar sedih.

Bagaimana tidak sedih?? Jangankan berusaha untuk memiliki anak. Kevin selalu tak berminat bercinta dengannya. Akhir-akhir ini, Rosalie merasa Kevin memang menghindarinya.

Kevin mulai jarang pulang dan tak betah di rumah. Hal itu juga yang membuat Rosalie semakin bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin.

"Ros?? Rosalie?? Ayo makan! Jangan malah melamun. Aku kan sudah minta maaf," ucapan Elia membuyarkan lamunan Rosalie.

"Ah iya."

"Ros, apa kamu sedang ada masalah? Kita ini teman sejak SMA. Kamu bisa cerita padaku. Aku akan membantumu sebisaku," ucap Elia.

Rosalie menatap sahabatnya itu. Ia memang sudah cukup lama memendam masalahnya sendiri. Bahkan dengan keluarganya sendiri, Rosalie tak pernah menceritakan tekanan batin dalam pernikahannya.

Ia tak ingin Mama dan Papanya bersedih. Dan, pastinya akan ada keributan karena orang tuanya tahu. Mereka sudah menginginkan hadirnya seorang cucu. Begitupun dengan orang tua Kevin.

Mereka juga sudah sangat berharap soal cucu. Namun, dalam setiap pertemuan keluarga, Rosalie hanya bisa diam dan melihat suaminya membual soal anak di depan mertua dan orang tuanya sendiri.

"Sebenarnya aku sudah sering melihatmu murung dan tak bersemangat. Hanya saja, hari ini aku memberanikan diri. Barangkali ada yang bisa aku bantu Ros," kata Elia.

Rosalie masih terdiam. Sebenarnya ia butuh tempat untuk berbagi cerita. Namun, ia takut Elia malah menertawakannya atau membuat keadaan semakin rumit.

Ia menatap Elia cukup lama. Elia memang teman yang baik sejak dulu. Mereka tak pernah punya masalah yang berarti. Akhirnya Rosalie memutuskan untuk percaya pada Elia. Rupanya ia sudah tidak tahan untuk memendam semuanya sendirian.

"Sebenarnya ini soal aku dan Kevin," ucap Rosalie masih ragu-ragu.

Beberapa detik Elia tampak kaget. Ia tak menyangka kalau masalah yang dihadapi sahabatnya adalah masalah rumah tangga.

"Apa yang terjadi Ros? Apa pernikahan kalian tak berjalan sesuai harapan? Apa Kevin punya wanita lain? Rasanya itu mustahil, kamu terlalu cantik untuk diduakan," kata Elia.

"Entahlah. Aku juga bingung."

"Aku masih belum mengerti. Apa yang membuatmu bingung?"

"Kevin belum pernah mengajakku bercinta. Tak ada malam pertama dan malam-malam berikutnya juga terasa hampa. Padahal dia selalu bilang kalau dia mencintaiku," ucapan Rosalie membuat mata Elia membuat sempurna.

"Apa?? Kamu bercanda?? Selama tiga tahun ini kalian ngapain?? Kok bisa? Aneh banget sih?" tanya Elia.

"Dengan berbagai alasan Kevin selalu menolakku. Dia seperti tak berminat padaku," ungkap Rosalie sambil terus menceritakan pengalamannya.

"Aku tak habis pikir. Kevin yang tampan dan kekar itu tak mau menyentuh wanita secantik kamu. Ada yang aneh di sini," kata Elia.

"Aku juga merasakan hal itu. Tadi malam figura foto pernikahan kami pecah. Sejak saat itu, aku memiliki firasat buruk."

"Apa kamu tak ingin menyelidikinya??"

Rosalie tertegun. Selama ini ia memang tak menyelidiki suaminya. Entah karena cintanya yang begitu besar, atau karena ketakutan Rosalie yang begitu besar.

Kemarahan Kevin begitu mengerikan bagi Rosalie. Kevin tak segan-segan menampar atau memukul Rosalie saat ia sedang marah.

"Aku takut El," ucap Rosalie.

"Ros, kamu juga punya hak di sini! Sebagai suami Kevin sudah tidak melaksanakan kewajibannya. Bukankah setiap orang yang menikah berhak bahagia?? Termasuk kamu Ros. Jangan mau dibuat menderita seperti ini! Bagaimana kamu bisa diam saja?"

"Jadi apa yang harus aku lakukan El?" tanya Rosalie bingung.

"Kamu harus menyelidikinya. Kalau kamu tak berani sendiri, aku siap menemanimu. Ingat, tiga tahun bukan waktu yang singkat. Dan kamu digantungkan seperti ini? Kamu juga punya hak untuk bahagia Ros," kata Elia.

Rosalie masih terdiam. Ia masih mengumpulkan semua rasa penasarannya dan juga keberaniannya. Saat ia menyelidiki Kevin, tentunya ia harus siap dengan semua kenyataan yang ada.

Hatinya bergetar. Ternyata rasa ingin tahu Rosalie lebih besar dari ketakutannya. Ia tak bisa mengorbankan waktunya lagi. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama dan Kevin sama sekali tak berubah.

"Apa lagi yang kamu tunggu Ros?? Aku takut kalau Kevin bermain dengan wanita lain di belakangmu. Kamu harus selidiki dia," kata Elia semakin meyakinkan Rosalie.

"Baiklah. Temani aku ya El. Aku akan cari hari yang tepat," ucap Rosalie menutup pembicaraan mereka.

Beberapa hari kemudian, Rosalie dan Elia izin setelah istirahat siang. Mereka menuju ke kantor Kevin. Setelah menunggu cukup lama, mereka melihat Kevin pulang lebih awal.

"Lihat! Dia pulang lebih awal! Mau kemana suamimu??" tanya Elia.

"Entahlah. Akhir-akhir ini, dia sering pulang dini hari bahkan tidak pulang," jawab Rosalie resah.

"Ayo kita cari tahu kebenarannya!" ajak Elia.

Jantung Rosalie berdetak lebih kencang. Mereka sedang mengikuti Kevin. Tak lama mereka tiba di sebuah kontrakan. Mata Rosalie terbelalak saat sadar, ia mengenal tempat itu.

"Ini kontrakan Novan. Rekan kerja Kevin. Tapi kenapa dia malah ke sini? Padahal jam kerja belum usai," ucap Rosalie curiga.

"Apa mungkin di dalam sana ada wanita? Atau jangan-jangan Kevin sudah janjian dengan seseorang di sini. Kita harus mengeceknya!" ajak Elia.

Rosalie dan Elia turun dari mobil. Mereka berjalan mengendap-endap menuju ke rumah kontrakan kecil itu. Mereka mengintip ruang tamu, tak ada siapapun di sana.

Akhirnya mereka menemukan jendela kamar yang kordennya tertutup rapat. Elia mencari-cari benda panjang untuk menyibakkan korden itu.

"Aku merindukanmu sayang!" terdengar suara lelaki dari dalam.

"Aku lebih merindukanmu. Sambil kerja, aku masih terbayang-bayang sensasi tadi malam bersamamu. Ah, rasanya aku ingin lagi dan lagi," suara Kevin membuat Rosalie merinding.

Wanita itu memegangi lengan Elia begitu erat. Ia tak menyangka akan mendengar percakapan seperti itu dari sesama lelaki. Rasanya ia ingin menutup telinganya rapat-rapat.

"Sini sayang! Aku ingin bersenang-senang denganmu."

Suara itu semakin membuat pikiran Rosalie mengelana jauh. Pertanyaan bertubi-tubi muncul di benaknya. Sedang apa mereka? Kevin dengan siapa? Kenapa mereka bersama?

Akhirnya Elia menemukan batang kayu kering. Perlahan ia menyibakkan korden dan akhirnya ada sebuah celah untuk melihat. Rosalie langsung menutup mulutnya.

Kevin dan Novan sedang asyik memadu kasih. Mereka sedang bercumbu hingga tak sadar ada dua orang yang melihatnya. Tiba-tiba Rosalie merasa begitu muak dengan keadaan.

Dua lelaki yang sudah tak memakai baju itu bercinta layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Napas Rosalie memburu. Rasa kecewa, marah, jijik, benci bercampur menjadi satu. Hati Rosalie hancur berkeping-keping.

"Astaga!! Apa yang kalian lakukan?" jerit Rosalie saat tak bisa menahan amarah di dalam hatinya.

Bersambung...