hotbuku

Let’s Read The World

Open APP
Pesona Istri Pertama

Pesona Istri Pertama

Author:Susi hariani

Kawin kontrak | Updating

Introduction
"Aku akan membuat mas Hilman jatuh cinta padaku," ucap Hanum pada wanita yang baru saja dinikahi oleh suaminya. "Jangan mimpi, kamu!" sentak Angela ketus. "Mas Hilman hanya mencintaiku, dan menikahi kamu karena desakan dari keluarganya." Hanum Aprilia Yuswandari, seorang wanita yang tangguh. Pernikahan kontrak yang ia jalani bersama dengan Hilman Saputra. Sedikit merubah hidupnya. Pewaris tunggal Argandana grup itu, menikahi dirinya karena desakan sang nenek. Dia tahu, kalau suaminya sudah memiliki kekasih. Sehingga dia harus rela berbagi suami dengan Angela, istri kedua Hilman. Setelah wanita itu tiba-tiba datang merusak semuanya. Tidak seperti kisah yang tayang di TV-TV, atau di novel yang aku baca. Istri pertama akan ditindas oleh istri kedua. Di novel ini, Hanum bisa membuktikan kelicikan Angela di depan keluarganya. Bahkan, dia membuat wanita itu hidup bagaikan di neraka satu atap dengannya. Ingin tahu kisah selanjutnya. Bagaimana Hanum mengerjai Angela. Simak di Novelku ya.
Show All▼
Chapter

Seorang gadis tampak gelisah setelah mendapat telpon dari seseorang. "Ibu,," lirih gadis itu dengan mata yang mengembun.

Kenan, pemilik cafe tempat gadis itu bekerja menyadari kegelisahan Hanum. Wanita berparas cantik itu mendekat.

"Hanum, apa kamu sakit?" tanyanya memegang pundakgadis itu.

"Enggak, Bu. sa__ya." Hanum tidak melanjutkan kalimatnya. "Apa saya boleh izin pulang cepat. Saat ini ibu saya sedang ada di rumah sakit. Penyakitnya kambuh lagi," pinta Hanum berkata jujur.

"Innalilahi, semoga ibumu cepet sembuh ya Hanum. Ya udah, kamu boleh pulang sekarang."

Setelah mendapat izin dari pemilik cafe, Hanum bergegas pergi menuju ke rumah sakit dengan menggunakan angkot.

Sesampainya di lobi rumah sakit, gadis itu menemui petugas receptionis untuk menanyakan ruangan ibunya di rawat.

"Pasien atas nama ibu Ayuwandira, di rawat di mana, ya?" tanyanya dengan air mata berlinang.

Petugas itu kemudian mencarinya di daftar pasien yang terdapat di layar monitor, labtob. "Ruang ICU," jawabnya dengan pasti.

Berbekal petunjuk dari petugas receptionis itu, Hanum gadis berusia 21 tahun itu bergegas menuju keruangan yang di maksud. Dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, ia sampai di ruang tersebut. Ruangan itu masih tertutup, pertanda belum usai aktifitas di dalam sana. Hanum hanya bisa menunggu, di luar dengan harap-harap cemas.

Hanum adalah putri pasangan dari Ayuwandira dengan almarhum pak Handoko. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Kehidupannya yang biasa-biasa saja, kerap kali mengharuskan gadis itu untuk kerja paruh waktu di sebuah cafe milik teman almarhum ayahnya.

"Dok, bagaimana dengan keadaan ibu saya?" Hanum bergegas menemui dokter Feri yang baru saja keluar dari dalam.

"Keadaan pasien semakin memburuk, pasien harus segera melakukan pencangkokan jantung. Khawatir, jika tidak segera di lakukan operasi, akan membahayakan nyawanya." Penjelasan dari dokter Veri seketika meluluhlantakkan hatinya.

Operasi? Dapat darimana uang sebanyak itu, untuk biaya operasi ibu?

Pertanyaan itu berkecamuk di benaknya, hingga ia tertunduk lemas mendengar berita itu. Sudah ia duga, hal ini akan terjadi. Tapi, dia tak menyangka akan secepat ini. Disaat dia belum siap segala-galanya.

"Saya permisi dulu," pamit dokter Veri dan hanya mendapat anggukan dari Hanum.

Sepeninggal ayahnya, kehidupan keluarga Hanum benar-benar sangat kacau. Ibunya sakit-sakitan, belum lagi dia harus mengurus adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Hanum terpaksa bekerja di dua tempat. Selain menjadi pelayan cafe, dia juga seorang office girl di kantor milik temannya.

"Ya Tuhan, aku harus mencari uang itu dimana?" racaunya, terduduk lemas di kursi tunggu.

***************

Di tempat yang sama, seorang pria dengan setelan jas dan kemeja warna senada tampak buru-buru menuju ke ruang ICU. Hingga tak sengaja ia tersandung kaki Hanum, membuat pria itu jatuh tersungkur ke lantai.

"Brengsek! Bisa gak sih, tuh kaki di kondisikan!" maki pria, menunjuk ke wajah Hanum setelah ia berhasil bangkit dari lantai.

"Ya ampun Om. Yang salah tuh bukan kaki saya, tapi Om yang gak liat ada orang disini," kilah Hanum, menunjuk ke arah wajah pria itu.

.

"Beraninya kamu bersikap tidak sopan dengan saya. Kamu tahu siapa saya?" Suara pria itu lantang, dengan wajah memerah memendam amarah.

"Ya enggaklah! Lagian, siapa emang Om. Artis? Bukan, 'kan?"

Baru saja pria itu akan mendekati Hanum, dering ponselnya berbunyi. Segera ia mainkan benda pipih itu, dan berlalu meninggalkan Hanum sendiri. Terlihat jelas dari wajah pria itu, tampak gusar setelah menerima telpon dari seseorang.

"Iya, Ma. Ini Hilman udah sampe kok." Ucapannya terdengar bergetar, menahan kesedihan.

Hilman Wijaya, pria berusia tiga puluh delapan tahun, dan masih single. keberadaannya di rumah sakit adalah atas permintaan bundanya. Hilman adalah anak tunggal dari pasangan Barata dan Emila, pemilik tunggal dari perusahaan Dirgantara grup. Perusahaan itu warisan dari orangtua Barata. Adiningrat dan Seruni.

Seruni, Neneknya kini terbaring di salah satu ruang rawat rumah sakit tersebut. Itulah yang menjadi alasan Hilman berada di tempat itu. Satu yang menjadi impian terbesar dari wanita berumur senja itu, yakni ingin menyaksikan cucu satu-satunya itu menikah.

"Bun, gimana keadaan Nenek?" tanya pria itu, menatap kearah neneknya.

"Kamu bisa lihat sendiri 'kan? Nenekmu." Melihat kondisinya yang semakin lemah, membuat siapa saja yang memandangnya ikut prihatin. Termasuk Hilman.

"Hil-man...," panggil Seruni lirih. Perlahan pemilik nama itu mendekat. Diraihnya tangan yang terlihat kusut itu pelan, dikecupnya berkali-kali.

"Nenek harus sembuh. Katanya Nenek mau liat Hilman menikah," lirihnya dengan suara berat menahan tangis.

Hilman adalah cucu kesayangan Seruni. Begitupun dengan pria yang mempunyai lesung pipi itu, dia sangat menyayangi wanita itu. Melebihi nyawanya sendiri. Apapun akan ia lakukan, demi melihat neneknya tersenyum. Satu permintaan wanita itu yang sampai saat ini belum bisa ia kabulkan. Menikah, permintaan itu yang terus diulang-ulang oleh wanita berumur senja itu.

"Nenek___sudah___gak__kuat." Kalimat itu menambah pilu hati Hilman. Ada ketakutan tersendiri dalam dirinya, tak bisa mengabulkan keinginan terbesar dari neneknya itu.

"Nenek___mau__kamu__menikah, sekarang!" perintahnya, namun dengan suara pelan.

Perbincangkan putra dan mertuanya itu, membuat Emila menepuk pelan pundak Hilman.

"Apa kamu tega, melihat nenekmu seperti ini?" Hilman semakin bingung dengan keadaan ini.

Bukan ia tak ingin segera menikah. Tapi, karena memang belum ada wanita yang mau menikah dengan pria itu. Haruka, kekasihnya masih belum siap jika diajak menikah. Itu yang menjadi alasan untuk Hilman menunda permintaan neneknya.

"Hari ini juga, Hilman akan bawa calon istri Hilman. Kalau perlu, hari ini juga Hilman akan nikahi gadis itu," ucap Hilman, dengan wajah yang sulit di tebak.

Ucapannya tadi seolah menjadi bumerang bagi Hilman. Kemana dia akan mencari wanita yang akan diajak menikah . Tapi jika ia tidak merealisasi ucapannya tadi, dia takut kesehatan Seruni akan memburuk lagi.

Di luar ruangan itu, dia hanya mondar-mandir tidak jelas. Dengan menopang tangannya, dia mulai berfikir. Hingga beberapa menit kemudian iris miliknya menangkap wanita yang bertemu dengannya tadi tampak sedang bernego dengan seorang perawat.

"Tapi saya belum punya uangnya, Sus. Tolongin saya Sus, berikan yang terbaik untuk ibu saya dulu. Saya janji, saya akan membayarnya." Hanum tampak mengiba pada perawat itu.

"Tapi kami tidak bisa melakukan operasi ibu anda, kalau anda belum membayar depositnya. Itu sudah menjadi prosedur dari rumah sakit ini." Ada penolakan dari perawat itu dengan permintaan Hanum.

Perdebatan itu menarik perhatian Hilman, hingga menarik dirinya untuk mendekati dua wanita itu.

"Saya mohon Sus, saya mohon."

"Nggak bisa Mbak. Kalau Mbak belum membayarnya." Hanum menatap sendu perawat itu, namun wanita di hadapannya tetap dengan pendiriannya.

"Saya yang akan membayar biaya operasi ibunya wanita ini." Dengan suara lantang, Hilman menunjuk kearah Hanum. "Tapi, izinkan saya bicara dulu dengan wanita ini," lanjutnya meminta persetujuan.

"Baiklah saya akan memberikan waktu lima belas menit kalian untuk bicara," ucap perawat itu kemudian meninggalkan mereka berdua.

Tinggallah mereka berdua yang saling memandang. Hanum menatap pria di hadapannya dengan tatapan bingung. Betapa tidak? Pria yang tadinya bersikap tidak baik padanya, mau membantunya. Rasanya tidak mungkin 'kan.

Sementara Hilman, pria itu memandang Hanum dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Terbesit dipikirannya, wanita itu bisa dimanfaatkan olehnya.

"Saya akan membayar biaya operasi ibu kamu," ucapnya menatap lekat Hanum. "Tapi dengan satu syarat," lanjutnya menggantung kalimatnya.

To be continued